GBRAN DPC Jombang Sambangi Ponpes Kecil Terlantar, Gus Mukhlasin Bertahan Tanpa Bantuan Pemerintah

Gus Mukhlasin (kiri) dan Gus Idris (kanan) pengasuh ponpes kecil di Jombang
Gus Mukhlasin (kiri) dan Gus Idris (kanan), dua pengasuh ponpes kecil di Jombang yang berjuang tanpa bantuan pemerintah. (Foto: Istimewa)
Senin, 27 Juli 2026  |  GBRAN, Jombang, Ponpes, Sosial

GBRANJATIM.COM – Di balik megahnya pondok pesantren besar yang sering mendapat sorotan media dan bantuan berlimpah dari pemerintah, terdapat ratusan pondok pesantren kecil di Jombang yang berjuang tanpa uluran tangan. Tim GBRAN DPC Jombang menyaksikan langsung kondisi memprihatinkan ini saat berkunjung ke Ponpes Isyadul Ibad di Balong Besok, Balong Biru, Jombang.

Afif Abdillah (kiri) tim GBRAN bersama Gus Mukhlasin (tengah) dan Gus Idris (kanan)
Afif Abdillah (kiri) tim GBRAN bersama Gus Mukhlasin (tengah) dan Gus Idris (kanan). (Foto: Istimewa)

Di tempat inilah KH. Mukhlasin (Gus Mukhlasin) dan KH. Muhamad Idris (Gus Idris) dari Ponpes Darul Ulum Mojosongo berbagi kisah pilu tentang perjuangan mereka bertahun-tahun menghidupi pondok dan para santri. Mereka mengaku belum pernah sekalipun menerima bantuan dari pemerintah.

Cerita dari Balik Gerbang Pondok

Tim GBRAN DPC Jombang yang dipimpin Ketua DPC Afif Abdillah disambut dengan ramah oleh kedua pengasuh. Mereka mendengarkan langsung cerita perjuangan puluhan tahun yang tak kenal lelah. Mulai dari memberi makan dan ilmu kepada santri yang datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar pulau, hingga harus menyebar kotak amal dan meminta sedekah beras untuk menyambung hidup.

"Kami bertahan dengan pembiayaan mandiri dari ternak ikan dan sawah. Itu kami lakukan tanpa lelah."
— Gus Mukhlasin, Pengasuh Ponpes Isyadul Ibad

Namun, yang lebih mengenaskan adalah pengakuan Gus Mukhlasin bahwa ia belum pernah sekalipun menerima bantuan dari pemerintah. "Cerita bantuan ratusan miliar dari pemerintah hanya ada di pondok-pondok besar. Sedangkan pondok-pondok kecil hanya jadi 'tumbal' dukungan program pemerintah," ungkapnya dengan nada getir.

Pernyataan itu langsung diamini oleh Gus Idris yang juga merasakan hal yang sama. "Kami ini hanya dipakai sebagai tumbal program, difoto-foto saat acara, tapi setelah itu kami dilupakan," sesalnya.

Kondisi kamar santri yang lengang di Ponpes Isyadul Ibad
Kondisi kamar santri yang kini lengang di Ponpes Isyadul Ibad. (Foto: Istimewa)

Pandemi yang Mematikan Semangat

Kisah semakin pilu saat Gus Mukhlasin menceritakan pengalamannya lima tahun lalu saat pandemi COVID-19 melanda. Semua santri harus dipulangkan, dan ia bertahan sendirian di pondok dengan gerbang yang dikunci agar tidak ada yang tertular.

"Saya hidup sendiri saat itu. Tidak ada santri, tidak ada kegiatan. Hanya saya dan pondok yang sepi."
— Gus Mukhlasin

Sejak saat itu, Ponpes Isyadul Ibad tak mampu beroperasi normal karena ketiadaan dana. Hingga kini, hanya beberapa santri yang tinggal dan ngaji secara tradisional. Berbagai cara sudah ditempuh Gus Mukhlasin untuk menghidupkan kembali pondoknya, namun terkendala biaya.

Kolam ikan di Ponpes Isyadul Ibad yang kini ditumbuhi rumput
Kolam ikan yang dulu menjadi sumber penghidupan pondok, kini ditumbuhi rumput. (Foto: Istimewa)

Ponpes Terbengkalai, Harapan di Ujung Tangan

Kini kondisi Pondok Isyadul Ibad sungguh memprihatinkan. Bangunan terbengkalai, lengang, dan banyak kerusakan di sana-sini. Kolam ikan yang dulu menjadi sumber penghidupan kini ditumbuhi rumput. Pendopo dan griya dalem lengang tanpa kegiatan.

Pendopo dan griya dalem Ponpes Isyadul Ibad yang kini lengang
Pendopo dan griya dalem Pondok Isyadul Ibad yang kini lengang tanpa santri. (Foto: Istimewa)
Masjid Ponpes Isyadul Ibad yang masih berdiri di tengah keterbatasan
Masjid Pondok Isyadul Ibad yang masih berdiri kokoh di tengah keterbatasan. (Foto: Istimewa)
"Butuh modal sangat besar untuk rehabilitasi pondok ini. Kami hanya berharap ada perhatian dari pemerintah."
— Gus Mukhlasin

📌 Fakta Keprihatinan

400+ pondok pesantren kecil di Jombang mengalami nasib serupa—jarang mendapat bantuan pemerintah, sementara beban operasional untuk menghidupi santri dan biaya pendidikan sangat besar. Mereka bertahan dengan usaha mandiri, tanpa uluran tangan dari negara.

Harapan dari Balik Keprihatinan

Tim GBRAN DPC Jombang berharap kunjungan ini dapat menjadi jembatan informasi bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib pondok-pondok kecil yang selama ini berjuang sendiri. Mereka bukan hanya membutuhkan uluran tangan, tetapi juga pengakuan bahwa mereka juga bagian dari ekosistem pendidikan Islam di Jombang.

"Kami tidak minta banyak. Cukup perhatian dan kepedulian dari pemerintah. Supaya pondok-pondok kecil seperti ini bisa kembali hidup dan melahirkan generasi yang bermanfaat."
— Gus Mukhlasin

Afif Abdillah, Ketua DPC GBRAN Jombang, menyatakan bahwa pihaknya akan terus mendampingi dan mengawal nasib pondok-pondok kecil di Jombang.

"GBRAN hadir untuk mendengarkan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil, termasuk pondok-pondok pesantren yang selama ini terlupakan. Kami akan terus bersinergi dengan semua pihak agar mereka mendapat perhatian yang layak."
— Afif Abdillah, Ketua DPC GBRAN Jombang

Pesan Redaksi GBRANJATIM.COM: Kunjungan GBRAN DPC Jombang ke Ponpes Isyadul Ibad menjadi pengingat bahwa masih banyak pondok pesantren kecil yang berjuang tanpa uluran tangan. Semoga perhatian pemerintah dan masyarakat semakin terbuka untuk mereka yang membutuhkan.

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GBRAN Jatim

GBRAN

Gerakan Berani Nusantara

DPD Jawa Timur

ARSIP ARTIKEL GBRAN JATIM

Status Sistem: Mengakses Log Informasi...

    Ucapan selamat GBRAN Jatim atas pelantikan DPD se-Indonesia

    GBRAN JATIM

    Selamat atas Pelantikan

    DPD GBRAN se-Indonesia

    VIDEO TERBARU